Postingan

Mengubah .mp3 ke .ogg untuk Minbar

Gambar
Ketika menambahkan Sabily - dulunya Ubuntu Muslim Edition - ke 9.04 saya, ada Minbar yang berfungsi sebagai pengingat waktu sholat. Memang di Firefox saya sudah ada PrayTimes, tapi kalo sedang tidak browsing kan tidak jalan PrayTimesnya. Nah, di Minbar ini saya coba tambahkan suara adzan yang saya download sendiri. Ternyata karena formatnya .mp3, suaranya tidak keluar. Di Internet saya temukan bahwa format yang digunakan harus .ogg. Jadi melalui Add/Remove saya instal Sound Converter. Nah jika sudah terinstal, jalankan, kemudian ambil file-file yang akan dikonversi ke .ogg dengan menekan tombol Add File (jika berada dalam satu folder, ambil saja semuanya sekaligus, jangan satu-satu!) Lihat gambar dibawah: Secara default, Sound Converter akan mengubah file ke format .ogg. Kalo Anda kurang yakin, klik Edit > Preferences: Lihat Type of result? dan pastikan Format adalah .ogg. Setelah itu Close dan kembali ke window utama Sound Converter, klik tombol Convert dan tunggu. Secara otomatis...

Audacious

Gambar
Karena kecewa dengan Amarok 2 (walaupun sekarang yang 1.4 sudah bisa terinstal) dan XMMS2 yang entah kenapa tidak muncul ikonnya di Application, saya mencoba Audacious. Ternyata walaupun konfigurasi equalizernya harus diatur manual (walaupun bisa mengambil preset milik Winamp), hasilnya tidak mengecewakan. Karena speaker notbuk saya standar, saya coba dengan sepasang Altec Lansing dan headset yang kualitasnya cukup baik. Mencoba Queen dengan Another One Bites The Dust, dentuman bass John Deacon terdengar mantap. Sebaliknya pada Jealousy, improvisasi bass John yang lembut juga dapat dinikmati dengan baik. Pindah ke Level 42, cabikan bass Mark King terasa pas di kuping. Selain itu Audacious ringan, cepat startnya dan juga dapat di minimize pada system tray. Kesimpulan saya, Audacious layak digunakan untuk mendengar lagu-lagu kesayangan Anda.

Amarok 1.4

Gambar
Tidak suka dengan Amarok 2? Sama!!! Amarok 2 tidak punya equalizer dan kalo distop langsung 'blek' gitu (maksudnya langsung mati tanpa ada basa-basi, hihihi...). Di Amarok 1.4 dan sebelumnya, lagu yang distop akan 'fading', menghilang pelan-pelan. Nah, bukannya Audacious yang saya pasang kurang bagus, tapi saya terlanjur klop dengan Amarok. Jadi, setelah ngubek2 Internet akhirnya ketemu cara instal Amarok 1.4, sebab jika diinstal dari Add/Remove atau Synaptic dijamin akan masuk Amarok 2 yang menyebalkan. Ini caranya: (Tulisan aslinya saya dapatkan disini: Written on May 6, 2009 – 10:18 am | by vandai | http://www.akemapa.com/2009/05/06/install-amarok-14-in-ubuntu-jaunty/ ) 1.Tambahkan PPA repositories ke sources list. sudo gedit /etc/apt/sources.list.d/amarok.list lalu tulis ini: deb http://ppa.launchpad.net/bogdanb/ppa/ubuntu jaunty main deb-src http://ppa.launchpad.net/bogdanb/ppa/ubuntu jaunty main 2. Tambahkan key untuk PPA: sudo apt-key adv –recv-ke...

Jaunty Jackalope!

Well, akhirnya Ubuntu 9.04 sukses berjalan di notbuk saya. Tampilan, hmm, ga banyak berubah, cuma login screen emang lebih keren dan elegan. Selain itu pemakaian memori koq menurun drastis ya? RAM saya yang cuma 512 biasanya waktu start sudah terpakai sekitar 40%, sekarang paling cuma 20%. Dan saat ini , saat menulis blog ini, saya mengaktifkan Audacious dan Pidgin, memori hanya terpakai 60%. Ternyata belakangan saya tau bahwa recommended RAM untuk 9.04 hanya 256MB, betul ga sih? Cuma ada yang aneh, swap yang biasanya nganggur di versi sebelumnya, sekarang di 9.04 selalu terpakai antara 5 - 10%. Untuk hal ini saya belum menemukan jawabannya, mungkin ini strategi Ubuntu untuk menghemat pemakaian RAM ya? Lazimnya, swap baru terpakai jika RAM sudah overload. OK, berikut ini saya daftar sejumlah hal baru yang saya peroleh dari 9.04, yang saya rasa baik (+) ataupun mengecewakan (-) (+) Start jauh lebih cepat (sesuai janjinya, hehehe...) Login screen elegan Resolusi 1280 x 800 dikenali denga...

Gonta-ganti Login Screen

Gambar
Masuk ke http://art.gnome.org/themes/gdm_greeter , lalu donlot login screen (dalam bentuk .tar.gz) mana saja yang Anda suka. Setelah itu buka System > Administration > Login Window . Pilih tab Local kemudian klik Add , ambil satu per satu login screen yang Anda donlot tadi. Setelah itu, agar login screen bisa berganti setiap kali boot, pada Theme pilih Random from selected . Nah, beri tanda centang pada kotak disebelah kiri login screen yang Anda inginkan lalu Close . Maka setiap kali Anda login tampilan login screennya akan berbeda secara otomatis.

AVG for Linux

Gambar
Baru-baru ini saya menambahkan AVG mendampingi Clam yang sudah ada. Donlot aja dari http://free.avg.com , lalu terserah mau disave ato dibuka langsung dengan Package Installernya Debian. Yang tersedia saat ini versi 7.5.51. Setelah terinstal biasanya dia langsung terupdate otomatis . Nah, tetapi untuk update berikutnya, seperti halnya Clam, AVG harus diupdate oleh root, alias dari terminal. Caranya: sudo avgupdate -o Kemudian untuk melakukan scan melalui terminal, ketik: sudo avgscan -scan /media/disk --> tergantung lokasi atau nama direktori. atau langsung di clean : sudo avgscan -clean /windows Untuk proses clean , lakukan 2 atau 3 kali hingga virus benar-benar hilang. Memang adakalanya virus tidak bisa dihapus, misalnya seperti yang saya alami: /windows/students/Autorun.inf Virus found Zapchast Cannot clean file - not enough information Kemungkinan karena databasenya belum up-to-date . Tetapi setidaknya saya bisa menghapus virus-virus di Windows XP pada kompie dual-boot saya d...

Why Ubuntu?

Gambar
Melihat begitu banyak distro Linux lain yang tampilannya begitu kinclong dan futuristis - termasuk Open Suse - kadang saya bertanya kenapa sampai hari ini saya masih bertahan dengan Ubuntu. Sejumlah teman yang juga Ubuntuers mengatakan bahwa turunan Debian ini memang sangat fleksibel diajak ngapainpun, termasuk dalam urusan nge hack . Mungkin begitu, tetapi bagi saya yang lebih banyak berkutat dengan pekerjaan reguler, mungkin tiga hal saja yang saya sukai dari Ubuntu: kestabilan, kemudahan dan kesederhanaan! Ingat, sederhana bukan berarti tampilan ala kadarnya. Lihat tampilan pada gambar diatas. Itu tampilan default dengan theme, panel, serta icon-icon launcher standar. Hanya wallpaper yang saya ganti. Meski saya menyukai Cairo Dock dan Cairo Clock, kadang saya merasa meniru-niru Macintosh. Ubuntu datang dengan kesederhanaan tampilan tetapi memiliki kestabilan tinggi khas Linux serta fasilitas yang tidak kalah dengan sistem operasi yang sudah lebih dulu ada. Tetapi jika diinginkan, Ub...